Pages

Minggu, 04 Februari 2018

Untuk Langit


Aku hanya merasa harus berjalan terus dengan semua ini. kata Langit ya memang hidupmu seperti itu, jadi harus dijalani dan dihadapi. tapi aku sungguh tak sanggup rasanya membawa bawa orang lain masuk ke dalam kehidupanku yang seperti ini. Aku tidak menyalahkan Tuhan, memanh skenarionya dibuat seperti ini mungkin atas ganjaran kebodohan dan kesombonganku sebagai manusia. Langit selalu bilang bahwa seharusnya ini sudah waktunya aku memanen tapi realitanya aku masih membajak mungkin juga belum menabur bibit apa apa. Ah, Langit mata mata manusia memang selalu beranggapan begitu, tapi aku merasa bahwa kesempatan hidup dan memiliki nyawa seperti ini mahal harganya. Dari semua yang telah kupelajari prasangka baik itu diletakkan pada Tuhan,bukan pada manusia karena jika kita meletakkannya pada manusia mungkin saja kita bisa berbalut kekecewaan suatu saat nanti. Langit, aku cuma ingin mengatakan aku punya fase dan standart tersendiri dalam hidupku sebelum bertemu kamu. Kamu adalah jalur lain yang tak pernah aku sangka sebelumnya, kamu tidak merusak jalur dan rencanaku, justru kamu memang menjadi bagian dari skenario hidupku seperti yang kamu bilang dulu di rumahku waktu itu. Memang aku sendiri merasa di saat seperti ini akulah satu dari sekian banyak orang yang hidupnya percuma dan sia sia. Masih belun menemukan siapa diri sesungguhnya bahkan untuk sekedar bisa mengisi perut sendiri juga belum mampu, tapi aku berusaha, tanpa harus berkoar koar di depan manusia lain, tanpa harus menunjukkannya padamu. Aku ingin berjalan dan berjuang sendiri karena aku mampu, tapi kini kamu ada di sampingku Langit...bisakah aku tidak melibatkanmu lagi dalam hidupku? Ah rasanya percuma langit... Tujuan kita cuma satu, bersama sampai abadi nanti. itu saja. Bukan berarti aku tidak akan peduli dengan kehidupan duniawi kita, aku peduli dan berusaha untuk kamu... untuk kamu... tapi tidak untuk manusia lainnya.

Minggu, 21 Januari 2018

Langit yang Menari

Hai Langit. Aku ingin tahu kabarmu setiap saat. terutama sejak titik titik air itu membasahi wajahmu yang bingung. Aku benar benar tak menyangka kamu akan mengalami mendung saat bersamaku waktu itu. Setelah semua keyakinan yang kita tanam bersama, berharap kita dapat menumbuhkannya sesuai ekspektasi. kepergian Ayahmu saat itu sungguh berbeda dari yang kurasakan dulu. Yakin dan percaya yang lebih padamu bahwa kamu dapat menggenggam tanganku lebih dari apapun, yakin dan percaya bahwa aku dapat merangkulmu lebih erat dari apapun. Semoga ini semua jalan yang benar yang kita pilih bersama.

Kembali Ke Rumah

Aku pikir akhirnya aku kembali ke jalurku..on the track.. entah ya kadang aku merasa ini hanyalah sekedar euforia masa lalu, tapi setelah semua yang terjadi dengan banyak orang-orang yang kutemui (baca: lawan jenis) pada akhirnya aku menemukan Langit lagi dan Hujan.... tapi aku ingin menitikberatkan pada pertemuanku dengan Langit. ya Langit dengan banyak warna pelangi dan mendung di sana, dengan banyak kilat dan petir serta gemuruh jalan hidup kami yang tak pernah disangka akan seperti ini. pada mulanya aku pesimis ini akan berhasil. bayangkan setelah selesai pendidikan dengan berbagai kasus yang menimpa kukira aku tak akan pernah sama lagi. tidak akan menemui rumah dengan atap dan warna langit yang sama... Thanks to para guruku dan mereka yang peduli...dan yang Terutama pada Allah SWT yang masih mau mengurusi hambaNya yang tak tahu diri ini, bahwa aku kembali menemui jalan pulang. Lebih daripada satu rumah, tapi juga kembali mendapati aku yang hilang dulu. Aku dan Langit sama sama punya masa lalu, baik untuk urusan cinta maupun kehidupan lain. yang konyolnya menjadi bagian prasangka masa lalu. Ketika pikiran jahatku datang dan tergoda untun mencari kambing hitam maka aku akan terus menyalahkan Langit tentang semua yang terjadi dalam hidupku di 5tahun terakhir yang lalu. 5 tahun yang boros dan sia sia. 5tahun yang tak akan pernah bisa kembali padaku.

Rabu, 15 November 2017

Hujan Lagi

Jadi, pada akhirnya aku hanya tersenyum saja. Senyum pengertian bahwa semua ini adalah proses dalam hidupku yang harus aku lalui mau tidak mau suka tidak suka. Proses untuk terus belajar menerima semua yang ada dan terjadi dalam hidupku apapun komentar orang lain, apapun penghakiman orang lain, apapun siasat orang lain... Butuh waktu 25 tahun lebih ternyata untuk sekedar lisan bisa terbuka dengan hati yang lebih legowo bahwa aku adalah aku. Aku adalah yang berasal dari keluargaku. Aku adalah manusia yang aku. Pada titik ini aku mengakui kalimat seorang temanku di pelabuhan antara Penang dan Kualalumpur bahwa aku berharga dan istimewa. Bahwa aku manusia. Apapun bentukku. Apapun tempat asalku. Dan sebuah tulisan Biru dan hasil diskusi dengannya tentang wadah sesuatu bahwa wadah bisa berbentuk apapun kita adalah isinya dan tergantung kita seperti apa isi kita. Jadi, ketika hujan bulan ini turun lagi renungan demi renungan memaksaku untuk terus menyadari tentang diriku sendiri bahwa belajar tak akan pernah ada akhirnya bahwa berproses itu seperti hujan: dari bumi ke langit kembali ke bumi. Begitu seterusnya tak berhenti. Aku masih ingin belajar dan terus belajar, apapun bentuk pelajaran itu. Aku masih berharap hujan masih bisa terus menemani tapak langkahku, membungkus semua ceritaku, dan membasuh wajah dan hatiku dengan cinta dan hikmah...

Open Eyes

Aku memulai tulisan ini tidak dengan salam pembuka apapun, karena aku tidak ingin dihakimi berdasarkan atribut apapun yang melekat pada diriku. Aku hanya ingin dinilai sebagai manusia biasa yang apapun yang terjadi pada hidupku adalah bisa juga terjadi pada manusia lainnya. Oke, lets start! Kenapa judul blogku aku beri judul catatan di atas 25 tahun? Hm... yah karena banyak hal yang terjadi dalam hidupku membuatku terus menerus belajar dan berlatih untuk mengenali dan menjalai segala peristiwa dalam hidupku, dan terutama ada moment yang tepat dalam hidupku untuk memulai lagi sesuatunya dalam hidup. Aku hanya percaya bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya membantuku memantapkan hati dan keluar dari semua ini. Supaya dapat gambaran yang lebih mendekati, pasti tahu kan film Posesif.Nah tak jauh jauh cerita awalnya dari film itu, aku bertemu lagi dengan seseorang yang dulu pernah aku jauhi dalam keadaan yang sama sama tidak bauk. Aku dengan segala masalah dalam keluargaku dan dia yang aku panggil dengan sebutan Angin, dengan segala masalah dengan dirinya dan kehidupan cintanya. Pada awalnya semua manis dan indah (basi) lalu kemudian hal hal tidak baik terjadi seperti kata kata kasar ironinya di saat aku dan dia sebentar lagi meraih gelar pendidikan yang cukup bergengsi. Ironi memang. Selama lima tahun kami terjebak dalam keposesifan masing-masing di luar nalar. Padahal usia kami tidak lagi muda waktu itu. Sudah bisa berpikir jauh lebih baik dari anak remaja. Tapi setan memang dimana mana dan kami berdua lemah dan tertipu dengan istilah cinta dan kesetiaan. Lima tahun itu aku tidak berdiam diri, aku masih bisa merenung dan sadar ini sebuah hubungan yang salah. Hubungan yang tidak sehat. Dia dengan segala kengototan dan keposesifannya, aku dengan segala keegoisan dan keambisiusanku. Ditengah kekalutan itu untunglah aku masih berpikir tentang jalan Tuhan, aku akhirnya berhasil membujuk keluargaku untuk mewujudkan cita citaku yang sempat terlantar dan dimatikan oleh dia, bahwa aku tidak akan mampu menempuh pendidikan master. Pada akhirnya, dengan susah payah dan jatuh bangun aku berhasil diterima di sebuah universitas negeri yang cukup prestisius, dengan tertatih tatih aku belajar dan mencoba kembali mencari diriku sendiri yang telah hilang selama lima tahun bersama dia. Aku terluka, patah, dan sakit, tapi aku harus bisa melalui semuanya karena banyak yang sudah kukorbankan dan banyak yang berkorban demi pendidikanku. Jurusan yang aku ambil pun sedikit banyak membantuku kembali mengenal diriku sendiri dan juga mengenal Tuhan lagi lebih dekat. Banyak hal terjadi selama proses pendidikanku yang tak seimbang dengan proses pengenalan diriku sendiri. Utang pendidikan menumpuk, fisik yang tak kunjung sehat, problem keluarga, kehidupan sosial yang absurd, lama lama membuatku mataku terbuka bahwa selama ini aku hidup dengan caranya dan dengan kemauannya, bukan dari diriku sendiri. Awalnya sakit sekali, sakit dan hancur, tapi aku tahu kalau aku tidak melepasnya aku seperti terus memeluk kaktus berduri. Akulah yang nantinya akan membusuk perlahan. Bersyukur pula bahwa aku ternyata memikili seorang profesor pembimbing yang tak kenal lelah selalu mengingatkan bahwa dalam hidup ini tidak melulu soal materi, tidak melulu soal apa yang dirasa pancaindera, tapi ada hal hal tak terlihat yang seringkali kita lupakan. Aku harus sangat berterimakasih kepada Profesorku itu karena beliaulah aku semakin sadar dengan aspek spiritual dalam hidupku, dan apa yang selama ini aku jalani dengan dia sama sekali tidak pernah menyentuh aspek itu...

Perapian yang Menyala

Perlahan tapi pasti,pada akhirnya aku sedikit demi sedikit menjauh darinya. Semua ini aku lakukan bukan karena banyaknya orang lain yang mendekatiku seperti dugaan banyak orang, tapi karena aku selalu berpikir tentang masa depanku dan dia. Aspek spiritual membuatku berpikir bahwa kehidupan kami nantinya tidak akan berhenti di dunia, tapi juga akhirat. Dan, selama bersamanya aku belum pernah yakin tentang aspek akhirat kami nantinya. Setelah malam yang panjang dengan doa, aku dipertemukan dengan seseorang. Orang yang kupanggil Biru ini sudah lama sekilas kulihat dan kutemui, dan melalui penglihatan yang sekilas sekilas itu aku merasakan sesuatu namun belum yakin apakah itu. Takdir suatu hari mempertemukan kami di ruangan pembimbingku, dan meskipun di awali dengan ragu dan dengan proses yang tertatih tatih pula aku mendapatkan sesuatu darinya dan mungkin juga dia mendapatkan sesuatu dariku. Pada mulanya aku bahagia, bahagia yang sebenarnya karena seolah menemukan sebagian diriku padanya. Dalam hati aku spontan berandai andai jika saja aku bertemu dengannya lebih awal dan dia ternyata mengatakan hal yang sama seperti yang aku pikirkan dalam hati. Setelah mengenalnya pula aku tahu bahwa api dalan perapianku yang sudah dipadamkan dengan paksa selama lima tahun kembali menyala-nyala. Tanganku yang selalu kaku dan mati mampu kembali menggoreskan pena dan cerita. Bahkan dengan dia aku mampu mengenang lagi cinta dalam hujan di kota dimana tulisan tulisanku bertumbuh. Sampai akhirnya aku bertemu kembali dengan Angin, aku akhirnya tahu selama kita saling menjauh dia sudah lebih dulu mendapatkan penggantiku yang kusebut Ombak, dan Angin akan menikahinya membentuk gelombang kehidupan yang baru, yang membuat kaget adalah bahwa jauh sebelum hubungan kami merenggang Angin dan Ombak juga sudah lama saling mengetahui isi hati. Tepatnya saat mereka bekerja bersama sama dalam satu kantor. Kesal dan amarah. Jika begitu nyatanya sangat akan lebih baik kami tidak melanjutkan hubungan sejak dulu dulu kala daripada terjebak dalam kubangan lumpur yang menyesakkan dada masing masing: Angin dengan kengototan dab keposesifannya dan aku dengan keegoisan dan keambisiusanku. Sekarang ketika Angin sudah mendapatkan semuanya, gelar doktor dan rumah besar, dia membiarkanku dalam tumpukan sampah utang pendidikan dan kemarahan keluarga, lebih tragis lagi waktuku dan diriku yang telah dia hancurkan selama lima tahun untuk menggapai cita citaku... Pertemuan dengan Angin juga sekaligus membuat percik api dalan perapianku tak lagi terang. Sebua kesadaran lain mengganggu tentang Biru. Angin saja yang selalu meyakinkan akan komitmen sebuah hubungan bisa berbelok hati dengan mudahnya, apalagi dengan Biru yang 'hanya' suka berwacana di atas meja makan...

Rapuh?

Jadi tentang Biru, aku sangat mengakui dialah yang kembali berhasil menyalakan api dalam perapianku. Api itu sempat berkorbar bahkan hampir membakar rumahku yang anehnya tidak membuatku takut tapi malah bahagia dan berterimakasih karena api itu yang kembali menggerakkan tanganku untuk menari di atas kertas bersama pena dan tinta.Tak butuh waktu lama aku kembali lupa seperti lima tahun lalu dan satu sentakan gelombang laut menamparku tiba tiba. Dia yang kupanggil Salju datang pada suatu malam yang senyap ketika aku tidak menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Tepat saat aku akan mengirim naskah ceritanya pada Biru, Salju menyapa. Aku terkejut. Takdir? Ah... Lalu tanpa diminta dia mengajakku memandang gabungan horizon dan lazuardi yang gelap, bicara banyak hal, bahkan tentang kehidupan cinta yang terikat dalam dua mata cincin. Selama bertahun tahun aku mengenal Salju tak pernah ia bersikap yang begitu membuatku shock. Cara bicaranya, sikapnya, tak lagi bagaikan teman lama yang akrab, dia lebih seperti seekor merpati di musim kawin. Aku tahu Salju cerdas, jadi entah bagaimana caranya dia membuatku sadar berkali kali bahwa kini aku bukan anak remaja lagi.Kami bukan remaja lagi. Aku bahkan sudah melewati dua puluh lima tahun seperempat abad usiaku.Dia membuatku menyadari bahwa kejujuran dan keterbukaan kini adalah sesuatu yang sangat harus aku lakukan. Jadi di pinggir pelabuhan itu aku katakan padanya tentang jatuh bangunku dan keluargaku, terseok seoknya pendidikanku, sakit dan patahnya perasaanku. Salju cerdas, dia sudah lebih separuh mengarungi dunia bersama badai dan gelombang laut. Hati dan cara pandangnya juga cara berpikirnya sebebas angin dan seluas laut, tapi aku juga tahu hatinya hanyalah setetes embun yang belum bisa mengatasi badainya hujan dan amukan banjir. Aku tahu...