Minggu, 21 Januari 2018

Langit yang Menari

Hai Langit. Aku ingin tahu kabarmu setiap saat. terutama sejak titik titik air itu membasahi wajahmu yang bingung. Aku benar benar tak menyangka kamu akan mengalami mendung saat bersamaku waktu itu. Setelah semua keyakinan yang kita tanam bersama, berharap kita dapat menumbuhkannya sesuai ekspektasi. kepergian Ayahmu saat itu sungguh berbeda dari yang kurasakan dulu. Yakin dan percaya yang lebih padamu bahwa kamu dapat menggenggam tanganku lebih dari apapun, yakin dan percaya bahwa aku dapat merangkulmu lebih erat dari apapun. Semoga ini semua jalan yang benar yang kita pilih bersama.

Kembali Ke Rumah

Aku pikir akhirnya aku kembali ke jalurku..on the track.. entah ya kadang aku merasa ini hanyalah sekedar euforia masa lalu, tapi setelah semua yang terjadi dengan banyak orang-orang yang kutemui (baca: lawan jenis) pada akhirnya aku menemukan Langit lagi dan Hujan.... tapi aku ingin menitikberatkan pada pertemuanku dengan Langit. ya Langit dengan banyak warna pelangi dan mendung di sana, dengan banyak kilat dan petir serta gemuruh jalan hidup kami yang tak pernah disangka akan seperti ini. pada mulanya aku pesimis ini akan berhasil. bayangkan setelah selesai pendidikan dengan berbagai kasus yang menimpa kukira aku tak akan pernah sama lagi. tidak akan menemui rumah dengan atap dan warna langit yang sama... Thanks to para guruku dan mereka yang peduli...dan yang Terutama pada Allah SWT yang masih mau mengurusi hambaNya yang tak tahu diri ini, bahwa aku kembali menemui jalan pulang. Lebih daripada satu rumah, tapi juga kembali mendapati aku yang hilang dulu. Aku dan Langit sama sama punya masa lalu, baik untuk urusan cinta maupun kehidupan lain. yang konyolnya menjadi bagian prasangka masa lalu. Ketika pikiran jahatku datang dan tergoda untun mencari kambing hitam maka aku akan terus menyalahkan Langit tentang semua yang terjadi dalam hidupku di 5tahun terakhir yang lalu. 5 tahun yang boros dan sia sia. 5tahun yang tak akan pernah bisa kembali padaku.