Rabu, 15 November 2017

Hujan Lagi

Jadi, pada akhirnya aku hanya tersenyum saja. Senyum pengertian bahwa semua ini adalah proses dalam hidupku yang harus aku lalui mau tidak mau suka tidak suka. Proses untuk terus belajar menerima semua yang ada dan terjadi dalam hidupku apapun komentar orang lain, apapun penghakiman orang lain, apapun siasat orang lain... Butuh waktu 25 tahun lebih ternyata untuk sekedar lisan bisa terbuka dengan hati yang lebih legowo bahwa aku adalah aku. Aku adalah yang berasal dari keluargaku. Aku adalah manusia yang aku. Pada titik ini aku mengakui kalimat seorang temanku di pelabuhan antara Penang dan Kualalumpur bahwa aku berharga dan istimewa. Bahwa aku manusia. Apapun bentukku. Apapun tempat asalku. Dan sebuah tulisan Biru dan hasil diskusi dengannya tentang wadah sesuatu bahwa wadah bisa berbentuk apapun kita adalah isinya dan tergantung kita seperti apa isi kita. Jadi, ketika hujan bulan ini turun lagi renungan demi renungan memaksaku untuk terus menyadari tentang diriku sendiri bahwa belajar tak akan pernah ada akhirnya bahwa berproses itu seperti hujan: dari bumi ke langit kembali ke bumi. Begitu seterusnya tak berhenti. Aku masih ingin belajar dan terus belajar, apapun bentuk pelajaran itu. Aku masih berharap hujan masih bisa terus menemani tapak langkahku, membungkus semua ceritaku, dan membasuh wajah dan hatiku dengan cinta dan hikmah...

0 komentar:

Posting Komentar