Rabu, 15 November 2017

Open Eyes

Aku memulai tulisan ini tidak dengan salam pembuka apapun, karena aku tidak ingin dihakimi berdasarkan atribut apapun yang melekat pada diriku. Aku hanya ingin dinilai sebagai manusia biasa yang apapun yang terjadi pada hidupku adalah bisa juga terjadi pada manusia lainnya. Oke, lets start! Kenapa judul blogku aku beri judul catatan di atas 25 tahun? Hm... yah karena banyak hal yang terjadi dalam hidupku membuatku terus menerus belajar dan berlatih untuk mengenali dan menjalai segala peristiwa dalam hidupku, dan terutama ada moment yang tepat dalam hidupku untuk memulai lagi sesuatunya dalam hidup. Aku hanya percaya bahwa Tuhanlah yang pada akhirnya membantuku memantapkan hati dan keluar dari semua ini. Supaya dapat gambaran yang lebih mendekati, pasti tahu kan film Posesif.Nah tak jauh jauh cerita awalnya dari film itu, aku bertemu lagi dengan seseorang yang dulu pernah aku jauhi dalam keadaan yang sama sama tidak bauk. Aku dengan segala masalah dalam keluargaku dan dia yang aku panggil dengan sebutan Angin, dengan segala masalah dengan dirinya dan kehidupan cintanya. Pada awalnya semua manis dan indah (basi) lalu kemudian hal hal tidak baik terjadi seperti kata kata kasar ironinya di saat aku dan dia sebentar lagi meraih gelar pendidikan yang cukup bergengsi. Ironi memang. Selama lima tahun kami terjebak dalam keposesifan masing-masing di luar nalar. Padahal usia kami tidak lagi muda waktu itu. Sudah bisa berpikir jauh lebih baik dari anak remaja. Tapi setan memang dimana mana dan kami berdua lemah dan tertipu dengan istilah cinta dan kesetiaan. Lima tahun itu aku tidak berdiam diri, aku masih bisa merenung dan sadar ini sebuah hubungan yang salah. Hubungan yang tidak sehat. Dia dengan segala kengototan dan keposesifannya, aku dengan segala keegoisan dan keambisiusanku. Ditengah kekalutan itu untunglah aku masih berpikir tentang jalan Tuhan, aku akhirnya berhasil membujuk keluargaku untuk mewujudkan cita citaku yang sempat terlantar dan dimatikan oleh dia, bahwa aku tidak akan mampu menempuh pendidikan master. Pada akhirnya, dengan susah payah dan jatuh bangun aku berhasil diterima di sebuah universitas negeri yang cukup prestisius, dengan tertatih tatih aku belajar dan mencoba kembali mencari diriku sendiri yang telah hilang selama lima tahun bersama dia. Aku terluka, patah, dan sakit, tapi aku harus bisa melalui semuanya karena banyak yang sudah kukorbankan dan banyak yang berkorban demi pendidikanku. Jurusan yang aku ambil pun sedikit banyak membantuku kembali mengenal diriku sendiri dan juga mengenal Tuhan lagi lebih dekat. Banyak hal terjadi selama proses pendidikanku yang tak seimbang dengan proses pengenalan diriku sendiri. Utang pendidikan menumpuk, fisik yang tak kunjung sehat, problem keluarga, kehidupan sosial yang absurd, lama lama membuatku mataku terbuka bahwa selama ini aku hidup dengan caranya dan dengan kemauannya, bukan dari diriku sendiri. Awalnya sakit sekali, sakit dan hancur, tapi aku tahu kalau aku tidak melepasnya aku seperti terus memeluk kaktus berduri. Akulah yang nantinya akan membusuk perlahan. Bersyukur pula bahwa aku ternyata memikili seorang profesor pembimbing yang tak kenal lelah selalu mengingatkan bahwa dalam hidup ini tidak melulu soal materi, tidak melulu soal apa yang dirasa pancaindera, tapi ada hal hal tak terlihat yang seringkali kita lupakan. Aku harus sangat berterimakasih kepada Profesorku itu karena beliaulah aku semakin sadar dengan aspek spiritual dalam hidupku, dan apa yang selama ini aku jalani dengan dia sama sekali tidak pernah menyentuh aspek itu...

0 komentar:

Posting Komentar