Rabu, 15 November 2017

Perapian yang Menyala

Perlahan tapi pasti,pada akhirnya aku sedikit demi sedikit menjauh darinya. Semua ini aku lakukan bukan karena banyaknya orang lain yang mendekatiku seperti dugaan banyak orang, tapi karena aku selalu berpikir tentang masa depanku dan dia. Aspek spiritual membuatku berpikir bahwa kehidupan kami nantinya tidak akan berhenti di dunia, tapi juga akhirat. Dan, selama bersamanya aku belum pernah yakin tentang aspek akhirat kami nantinya. Setelah malam yang panjang dengan doa, aku dipertemukan dengan seseorang. Orang yang kupanggil Biru ini sudah lama sekilas kulihat dan kutemui, dan melalui penglihatan yang sekilas sekilas itu aku merasakan sesuatu namun belum yakin apakah itu. Takdir suatu hari mempertemukan kami di ruangan pembimbingku, dan meskipun di awali dengan ragu dan dengan proses yang tertatih tatih pula aku mendapatkan sesuatu darinya dan mungkin juga dia mendapatkan sesuatu dariku. Pada mulanya aku bahagia, bahagia yang sebenarnya karena seolah menemukan sebagian diriku padanya. Dalam hati aku spontan berandai andai jika saja aku bertemu dengannya lebih awal dan dia ternyata mengatakan hal yang sama seperti yang aku pikirkan dalam hati. Setelah mengenalnya pula aku tahu bahwa api dalan perapianku yang sudah dipadamkan dengan paksa selama lima tahun kembali menyala-nyala. Tanganku yang selalu kaku dan mati mampu kembali menggoreskan pena dan cerita. Bahkan dengan dia aku mampu mengenang lagi cinta dalam hujan di kota dimana tulisan tulisanku bertumbuh. Sampai akhirnya aku bertemu kembali dengan Angin, aku akhirnya tahu selama kita saling menjauh dia sudah lebih dulu mendapatkan penggantiku yang kusebut Ombak, dan Angin akan menikahinya membentuk gelombang kehidupan yang baru, yang membuat kaget adalah bahwa jauh sebelum hubungan kami merenggang Angin dan Ombak juga sudah lama saling mengetahui isi hati. Tepatnya saat mereka bekerja bersama sama dalam satu kantor. Kesal dan amarah. Jika begitu nyatanya sangat akan lebih baik kami tidak melanjutkan hubungan sejak dulu dulu kala daripada terjebak dalam kubangan lumpur yang menyesakkan dada masing masing: Angin dengan kengototan dab keposesifannya dan aku dengan keegoisan dan keambisiusanku. Sekarang ketika Angin sudah mendapatkan semuanya, gelar doktor dan rumah besar, dia membiarkanku dalam tumpukan sampah utang pendidikan dan kemarahan keluarga, lebih tragis lagi waktuku dan diriku yang telah dia hancurkan selama lima tahun untuk menggapai cita citaku... Pertemuan dengan Angin juga sekaligus membuat percik api dalan perapianku tak lagi terang. Sebua kesadaran lain mengganggu tentang Biru. Angin saja yang selalu meyakinkan akan komitmen sebuah hubungan bisa berbelok hati dengan mudahnya, apalagi dengan Biru yang 'hanya' suka berwacana di atas meja makan...

0 komentar:

Posting Komentar