Rabu, 15 November 2017
Rapuh?
Jadi tentang Biru, aku sangat mengakui dialah yang kembali berhasil menyalakan api dalam perapianku. Api itu sempat berkorbar bahkan hampir membakar rumahku yang anehnya tidak membuatku takut tapi malah bahagia dan berterimakasih karena api itu yang kembali menggerakkan tanganku untuk menari di atas kertas bersama pena dan tinta.Tak butuh waktu lama aku kembali lupa seperti lima tahun lalu dan satu sentakan gelombang laut menamparku tiba tiba.
Dia yang kupanggil Salju datang pada suatu malam yang senyap ketika aku tidak menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Tepat saat aku akan mengirim naskah ceritanya pada Biru, Salju menyapa. Aku terkejut. Takdir? Ah...
Lalu tanpa diminta dia mengajakku memandang gabungan horizon dan lazuardi yang gelap, bicara banyak hal, bahkan tentang kehidupan cinta yang terikat dalam dua mata cincin. Selama bertahun tahun aku mengenal Salju tak pernah ia bersikap yang begitu membuatku shock. Cara bicaranya, sikapnya, tak lagi bagaikan teman lama yang akrab, dia lebih seperti seekor merpati di musim kawin.
Aku tahu Salju cerdas, jadi entah bagaimana caranya dia membuatku sadar berkali kali bahwa kini aku bukan anak remaja lagi.Kami bukan remaja lagi. Aku bahkan sudah melewati dua puluh lima tahun seperempat abad usiaku.Dia membuatku menyadari bahwa kejujuran dan keterbukaan kini adalah sesuatu yang sangat harus aku lakukan.
Jadi di pinggir pelabuhan itu aku katakan padanya tentang jatuh bangunku dan keluargaku, terseok seoknya pendidikanku, sakit dan patahnya perasaanku.
Salju cerdas, dia sudah lebih separuh mengarungi dunia bersama badai dan gelombang laut. Hati dan cara pandangnya juga cara berpikirnya sebebas angin dan seluas laut, tapi aku juga tahu hatinya hanyalah setetes embun yang belum bisa mengatasi badainya hujan dan amukan banjir. Aku tahu...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar