Minggu, 04 Februari 2018

Untuk Langit


Aku hanya merasa harus berjalan terus dengan semua ini. kata Langit ya memang hidupmu seperti itu, jadi harus dijalani dan dihadapi. tapi aku sungguh tak sanggup rasanya membawa bawa orang lain masuk ke dalam kehidupanku yang seperti ini. Aku tidak menyalahkan Tuhan, memanh skenarionya dibuat seperti ini mungkin atas ganjaran kebodohan dan kesombonganku sebagai manusia. Langit selalu bilang bahwa seharusnya ini sudah waktunya aku memanen tapi realitanya aku masih membajak mungkin juga belum menabur bibit apa apa. Ah, Langit mata mata manusia memang selalu beranggapan begitu, tapi aku merasa bahwa kesempatan hidup dan memiliki nyawa seperti ini mahal harganya. Dari semua yang telah kupelajari prasangka baik itu diletakkan pada Tuhan,bukan pada manusia karena jika kita meletakkannya pada manusia mungkin saja kita bisa berbalut kekecewaan suatu saat nanti. Langit, aku cuma ingin mengatakan aku punya fase dan standart tersendiri dalam hidupku sebelum bertemu kamu. Kamu adalah jalur lain yang tak pernah aku sangka sebelumnya, kamu tidak merusak jalur dan rencanaku, justru kamu memang menjadi bagian dari skenario hidupku seperti yang kamu bilang dulu di rumahku waktu itu. Memang aku sendiri merasa di saat seperti ini akulah satu dari sekian banyak orang yang hidupnya percuma dan sia sia. Masih belun menemukan siapa diri sesungguhnya bahkan untuk sekedar bisa mengisi perut sendiri juga belum mampu, tapi aku berusaha, tanpa harus berkoar koar di depan manusia lain, tanpa harus menunjukkannya padamu. Aku ingin berjalan dan berjuang sendiri karena aku mampu, tapi kini kamu ada di sampingku Langit...bisakah aku tidak melibatkanmu lagi dalam hidupku? Ah rasanya percuma langit... Tujuan kita cuma satu, bersama sampai abadi nanti. itu saja. Bukan berarti aku tidak akan peduli dengan kehidupan duniawi kita, aku peduli dan berusaha untuk kamu... untuk kamu... tapi tidak untuk manusia lainnya.

0 komentar:

Posting Komentar